Aktivasi

Istilah activation (Aktivasi) atau gugahan mengacu kepada kesiapan psikologis seorang dalam menghadapi suatu aktivitas misalnya pertandingan. Activation atau arousal harus dibedakan pengertiannya dari anxiety, meskipun anxiety juga merupakan suatu gugahan psikologis dalam menghadapi suatu aktivitas atau event. Akan tetapi anxiety mengacu kepada gugahan yang tinggi yang biasanya menyebabkan orang merasa kurang enak (uncomfortable).
Aktivasi dan anxiety akan selalu ada dan tidak mungkin dihindari dalam setiap pertandingan. Tantangan bagi pelatih adalah, bagaimana menolong atlit untuk mengenal (recognize) aktivasi dan respons-respons anxiety, sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap situasi-situasi yang dihadapi, terutama situasi-situasi yang kurang enak dan kurang menggembirakan baginya. Kemampuan untuk menyetel dan mengatur tingkat anxiety dan tingkat aktivasi sebelum dan selama pertandingan merupakan skill yang sangat penting guna memperoleh prestasi yang setinggi-tingginya.
Setiap atlit mempunyai cara atau tekniknya sendiri dalam mempersiapkan diri secara psikologis menghadapi suatu pertandingan. Sesuai dengan ciri kepribadiannya, ada atlit yang memilih menyendiri dalam mengatur siasatnya mempersiapkan diri sebelum bertanding, oleh karena dengan anxiety atau aktivasi yang rendah dia bisa berprestasi lebih baik.
Akan tetapi ada pula atlit-atlit yang perlu atau ingin digugah, malah dibakar emosinya sebelum bertanding. Oleh karena dengan demikian dia akan merasa lebih siap. Bagi low anxiety performer (atlit yang membutuhkan anxiety yang rendah sebelum bertanding), gugahan atau cara penyemangatan demikian mungkin justru akan menyebabkan konsentrasinya hilang. Oleh karena itu seorang pelatih harus jeli dan pandai-pandai memperkirakan tingkat aktivasi yang bagaimana yang paling cocok bagi setiap atlitnya agar mereka dapat tampil sebaik mungkin dan berprestasi seoptimal mungkin. Susahnya memang tidak ada “satu-satunya cara yang terbaik” dalam menggugah emosi mereka sebelum pertandingan. Dan belum tentu metode-metode inovatif dan kreatif yang ternyata berhasil dan efektif dalam suatu situasi tertentu akan juga efektif dalam situasi lain sekalipun diterapkan oleh pelatih yang sama.
Oxendine (Moose dan Tropmann: 1981) mengatakan bahwa mengubah aktivasi dan gugahan ke suatu tingkat yang diingini membutuhkan pengertian dalam beberapa prinsip dasar psikologi serta ketrampilan dalam menggunakan teknik-teknik tertentu. Beberapa teknik untuk menaikkan tingkat aktivasi dalam kegiatan motorik adalah misalnya: memberikan tantangan-tantangan, pujian-pujian, hukuman, hadiah, musik, hipotesa, peptalk, dan sebagainya. Misalnya musik dalam ruang ganti pakaian (locker room) sebelum latihan atau pertandingan mungkin akan dapat menaikkan tingkat kegairahan (excitement) berlatih atau bertanding dan musik lembut dapat merileksikan (cald down) emosi dan excitement yang berlebihan.
Pelatih juga harus sadar bahwa teknik yang bermaksud untuk menggugah semua atlit, di satu pihak dapat menaikkan tingkat prestasi beberapa atlit, akan tetapi di lain pihak juga dapat menurunkan prestasi atlit-atlit lain. Oleh karena itu, mungkin ada baiknya untuk memisahkan para pemain dalam dua kamar yang berlainan sebelum pertandingan, tergantung dari reaksi mereka terhadap pertandingan yang dihadapi. Dengan demikian pelatih dapat menerapkan aktivasi dan arousal yang berlainan dan yang lebih teliti kepada setiap kelompok atlit. Satu kelompok di “psych up” (ditingkatkan aktivasinya) dan kelompok yang lain di “psych down” atau di cald down oleh karena terlalu bersemangat (overrexcited).
Menurut Oxendine (Fuose dan Troppmann:1981), hasil riset literatur ilmiah dan pengalaman mengungkapkan bahwa:
1. Tingkat arousal atau aktivasi yang tinggi penting untuk aktivitas-aktivitas yang menuntut kekuatan (misalnya tinju, angkat besi, gulat, dan sebagainya) daya tahan, dan kecepatan.
2. Tingkat arousal yang tinggi mengganggu aktivitas yang berisi ketrampilan-ketrampilan yang kompleks (misalnya dalam senam), gerakan-gerakan otot yang halus, koordinasi, kestabilan, dan konsentrasi (misalnya penahan, menembak, golf, dan sebagainya).
3. Tingkat gugahan yang sedikit lebih tinggi dari normal (Hightly above-averge level of arousal) dianjurkan untuk semua tugas motorik (aktivitas fisik).
“…. a little arousal helps is preparing athletes for a contest.” (Silva dan Weinberg: 1984), dan bahwa ada pula konsensus bahwa terlalu banyak gugahan dan terlalu bergairah (overexcited) akan berakibat buruk terhadap prestasi.
Mungkin overexcitement ini pula yang dialami petembak handal kita, S.L. sehingga gagal mencapai target 380 pada SEA Games 1987 di Jakarta. “Tadi pagi saya benar-benar siap” begitu ungkap atlit tertua kontingen Indonesia ini kepada Kompas (tanggal tidak tercatat).” Tapi semua tergantung ketegaran mental, saya terlalu ingin baik. Justru terlalu hati-hati itulah angka yang saya targetkan tak tercapai.” Ditambahkan oleh Kompas betapa S.L tidak bisa saja menekan picu pistol oleh karena pikirannya tak bisa bebas dari tekad “harus baik”. Atlit yang selalu tenang penampilannya ini melanjutkan “saya berusaha mengalihkan pikiran pada teknik menembak, tapi tak bisa juga. Waduh seandainya saja ada kans yang bisa mematikan gangguan pikiran itu, saya mau pesan tadi.” Nampaknya latihan-latihan visualization, centering, imagitives dan sebangsanya seperti, sub-vocal, ideomotor, dan screened observative rehearsal akan bisa banyak menolong atlit untuk membunuh pikiran-pikiran yang mengganggu, khususnya dalam situasi stress yang dasyat.
Fuoss dan Tropmann (1981) mengatakan bahwa atlit yang “up too high” (terlalu anxieted) dalam pertandingan seringkali sukar untuk dibetulkan. “Kalau too high, seringkali nampaknya yang ditampilkan oleh para atlit adalah suatu komedi dari kesalahan-kesalahan, dan makin lama penampilannya makin buruk. Lebih keras mereka berusaha untuk mengatasinya, makin menggelikan kiprah mereka.
Sebaliknya, tim yang kurang bergairah (lethargic) pada waktu pertandingan, masih tidak terlalu sukar untuk dibetulkan dan di-reorganize selama pertandingan.
Fuoss dan Tropmann mengatakan bahwa tim yang lethargic adalah tim yang seakan-akan mendapat coaching yang jelek: sedangkan tim yang up too high adalah tim yang seakan-akan tidak pernah mendapat coaching. “… with the “down” players it may look as if the team has had poor coaching, with the “up” players it may look as if they have not had any coaching.” (1981)
Pada tabel berikut dapat kita lihat proses-proses fisik dan psikis, serta aktivitas atlit pada berbagai tingkat aktivasi.
Hubungan antara arousal dengan prestasi paling cocok digambarkan melalui apa yang disebut hipotesis.
Hubungan antara arousal dengan prestasi paling cocok digambarkan melalui apa yang disebut Hipotesis Inverted-U” (huruf u terbalik) atau sering pula disebut Hukum Yarkes Dobson (Weinberg: 1988).

Tentang mohammadzainuri

sport,,,sport...sport...
Pos ini dipublikasikan di portofolio. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s