Teknik Progresive Muscle Relaxation

Seringkali teknik-teknik desensitisasi (peredaan kepekaan) demikian dibarengi dengan teknik relaksasi Jacobson. Maksud latihan ini adalah untuk melatih orang untuk beisa merilekskan otot-ototnya apabila berada dalam situasi yang membangkitkan anxiety. Atlit yang bimbang atau takut biasanya otot-ototnya menjadi tegang (tensed). Dan kalau otot-ototnya tegang, maka biasanya ketrampilan fisiknya akan terganggu, otot-otot tersebut harus dibuat rileks. Oleh karena memaksa otot untuk rileks tidak mudah, apalagi dalam situasi tegang, maka orang haruslah melatih diri untuk bisa merilekskan otot-otot yang tegang tersebut. Lebih dari itu, dia harus dapat secara sadar mengontrol, menguasai, dan mengatur otot-ototnya agar bisa rileks.
Progresive muscle relaxation dari Edmond Jacobson (Vanek dan Cratty: 1970), seorang dokter Amerika, adalah salah satu teknik untuk belajar mengontrol otot-otot.
Jacobson berpendapat bahwa ada hubungan langsung dari sistim otot ke emosi orang. Kalau kita dapat mengontrol otot-otot kita dan mengurangi ketegangannya, maka kita akan mampu pula untuk mengontrol emosi-emosi kita.
Secara sepintas prosedur Jacobson dapat digambarkan sebagai berikut:
mula-mula atlit disuruh duduk atau berbaring dengan rileks. Kemudian secara bergantian anggota tubuh diberi giliran untuk dilatih rileksasi. Mula-mula anggota tubuh tersebut, misalnya lengan disruh ditegangkan dengan tegangan isometrik. Tegangan ini dipertahankan untuk selama kira-kira 10 detik atau lebih (Gauron: 1984). Setelah kira-kira 10 detik otot-otot lengan tersebut diperintahkan untuk rileks, dan harus dirasakan betul bahwa lengan itu seolah-olah terasa panas dan bahwa otot-otot dalam lengan itu dapat kita kontrol. Sambil istirahat kira-kira 10 detik kita pusatkan perhatian kita pada otot-otot yang rileks tersebut, dan pada tegangan yang mengalir ke luar dari otot-otot lengan tersebut.
Dari lengan kemudian kita pindah ke otot-otot wajah kita. Prosedur yang sama kita ikuti, yaitu otot-otot wajah kita ditegangkan, pertahankan selama 10 detik, kemudian dirilekskan kembali. Kemudian kita pindah ke bagian tubuh kita yang lain misalnya ke leher, pundak, dada, dan seterusnya, sampai akhirnya ke ujung-ujung kaki.
Setelah berlatih berulang-ulang, diharapkan lama-kelamaan kita akan mampu mengontrol otot-otot kita sehingga apabila timbul ketegangan di dalam toto-otot kita, segera pula kita akan dapat memerintahkan otot-otot kita tersebut untuk rileks.
Latihan rileksasi ini harus dilakukan secara tekun dan teratur. Tanpa latihan yang kontinyu tidak mungkin atau sukar sekali kita untuk dapat mengontrol otot-otot kita.

Tentang mohammadzainuri

sport,,,sport...sport...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s